Minggu, 05 Februari 2017

Musrenbang Kelurahan Grendeng Kec Purwokerto utara


















Puluhan penambang pasir ilegal di sepanjang Sungai Serayu, yang ada di Kecamatan Rawalo, dan Kebasen, Banyumas, mendapat peringatan dari Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO) Yogykarta. Penyerahan surat peringatan pertama ini dilakukan supaya mereka tidak menambang di daerah larangan.

          Peringatan dipimpin langsung oleh PPNS BBWSSO, Bambang Sumadyo kepada puluhan penambang yang dimediatori oleh anggota Dewan Sumber Daya Air Jawa Tengah, Eddy Wahono, dan Sekretaris Kecamatan (Sekcam) Rawalo, Wahyono. Setelah mendapat surat peringatan, puluhan penambang sepakat akan menggeser penambangan pasir 1000 meter hilir Jembatan Soeharto, dan 500 meter hulu jembatan tersebut. “Kami sepakat untuk pindah lokasi, tidak lagi dekat jembatan nasional,” kata Budi perwakilan penambang. Sementara Anggota Dewan Sumber Daya Air Jawa Tengah, Eddy Wahono mengatakan, penambangan ini dinilai membahayakan bangunan Jembatan Soeharto, yang dibangun dengan biaya ratusan miliar rupiah. Sebab, dengan adanya penambangan ilegal tersebut, Sungai Serayu sudah mengalami degradasi. 

          “Berkaitan kondisi tersebug BWWSSO Yogyakarta yang memiliki kewenangan dan pengawasan sungai tersebut untuk segera melakukan studi morfologi sungai, dan penertiban terhadap penambangan pasir ilegal,” ungkapnya. Menurutnya, studi morfologi sangat penting untuk mengetahui daerah yang dapat ditambang dan tidak diperkenankan ditambang. Untuk pengendalian dan penindakan kepada penambang ilegal diperlukan dengan pembinaan dan pencarian solusi. Selain itu, munculnya penambang ilegal juga dampak Undang Undang Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah yakni pengurusan izin tambang harus ke provinsi. Dampak dari lahirnya aturan tersebut membuat pengajuan izin membutuhkan waktu cukup lama, dan biaya cukup banyak. “Karena pengurusan izin berada di tingkat provinsi, tidak lagi di kabupaten. Kondisi itu, diperparah dengan adanya kesenjangan ego sektoral instansi daerah, pusat dan provinsi. Karena belum ada sinkronisasi tentang kepengurusan perizinan tambang,” tandasnya. 
Sumber: http://radarbanyumas.co.id

Pembenahan Obyek Wisata di Banyumas Dianggar Rp 2,5 M

Obyek wisata di Banyumas, beberapa waktu belakangan terus bertambah. Namun, tidak semua tempat wisata tersebut dikelola pemerintah daerah melalui Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Dinporabudpar) Kabupaten Banyumas. Kepala Bidang Pariwisata Dinporabudpar Kabupaten Banyumas, Saptono mengatakan, dalam pengelolaan tempat wisata menerapkan tiga pilar yaitu dari pemerintah daerah, swasta, maupun masyarakat

           Pembenahan Obyek Wisata di Banyumas Dianggar Rp 2,5 M Radar Banyumas KAMIS, 2 FEBRUARI 2017 Untuk Meningkatkan Daya Tarik Wisatawan PURWOKERTO- Obyek wisata di Banyumas, beberapa waktu belakangan terus bertambah. Namun, tidak semua tempat wisata tersebut dikelola pemerintah daerah melalui Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Dinporabudpar) Kabupaten Banyumas. Kepala Bidang Pariwisata Dinporabudpar Kabupaten Banyumas, Saptono mengatakan, dalam pengelolaan tempat wisata menerapkan tiga pilar yaitu dari pemerintah daerah, swasta, maupun masyarakat. Pengelolaan pemerintah daerah melalui Dinporabudpar Kabupaten Banyumas, meliputi Lokawisata Baturraden, Taman Rekreasi Andhang Pangrenan (TRAP), Balai Kemambang, Musium Panglima Besar Jenderal Soedirman, Wisata Husada Kali Bacin, dan Musium Wayang Banyumas. 

          “Pada tahun ini, kami akan perbaharui tatanannya dengan anggaran senilai Rp 2,5 miliar, sehingga terlihat lebih rapi dan menarik,” ujarnya. Dia menjelakan, penataan tersebut berupa penataan taman, wahana permainan anak gratis, dan selfie deck yang akan disesuaikan dengan lokawisata. Sementara ini, wahana permainan anak gratis sudah ada di Balai Kemambang, TRAP, serta Musium Panglima Besar Jenderal Soedirman. Namun tidak menutup kemungkinan, ke depan juga akan ditambah di lokawisata lainnya. Khusus di TRAP, juga akan ditambahkan lampion dan perbaikan jaringan listrik. “Kami tidak targetkan khusus penyelesaian penataan ini, tapi paling tidak tahun ini sudah selesai semua,” jelasnya. Untuk lokawisata lain yang pengelolaannya tidak dilakukan pemerintah daerah, tetap ada pengawasan. Hal tersebut dilakukan supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Pemantauan lainnya juga dalam bentuk pembinaan secara rutin. Selain itu pantauan untuk perizinan. “Tetap harus ada izinnya walaupun itu dikelola swasta, karena kami tidak ingin ada hal buruk terjadi yang dapat mencoreng lokawisata di Banyumas,” ujar Saptono.
Sumber: http://radarbanyumas.co.id

Rabu, 01 Februari 2017

Duplikat Jembatan Merah Sungai Serayu Segera Dibangun

Duplikat Jembatan Merah Sungai Serayu segera dibangun. Jembatan yang menghubungkan Patikraja – Kebasen itu, saat ini memasuki tahap perencanaan lelang. “Saat ini memasuki tahapan persiapan dokumen untuk lelang dan mempersiapkan pembebasan tanahnya. Target sekitar akhir Februari masuk ULP (Unit Layanan Pengadaan) semua. Jadi diperkirakan akhir Maret bisa langsung kontrak,” kata Kepala Bidang Pembangunan Jalan DPU Kabupaten Banyumas, Achmad Taufik, Senin (30/1). Dia mengatakan, pembangunan duplikat jembatan merah tersebut dianggarkan menggunakan APBD 2017 sebesar Rp 12 miliar. Rencananya, , akan dibangun dalam satu tahap. “Dibuat satu tahap selesai. Pembangunan dan pembebasan tanah menggunakan APBD semua, kita hanya mendapat bantuan atapnya atau kerangka jembatan dari pusat,” jelasnya. Saat ini, jembatan penghubung Patikraja – Kebasen itu tidak dapat dilewati kendaraan roda empat dari dua arah. Kondisi itu membuat pengendara harus bergantian saat akan melintas. Jembatan ini, nantinya akan dibangun di samping jembatan lama. Secara ukuran, jembatan juga akan didesain lebih lebar, sehingga dapat dilalui kendaraan dari dua arah. Secara umum desain jembatan tersebut akan ditopang dua pilar. 

          Jembatan tersebut, strukturnya akan menggunakan rangka baja. Rencananya jembatan tersebut akan memiliki lebar tujuh meter dan panjang mencapai 125 meter. “Jika jembatan yang baru telah selesai dibangun, badan jembatan yang lama tetap akan dibiarkan. Hanya saja, akses menuju jembatan yang lama akan ditutup agar orang tidak melintas di jembatan yang lama,” ujarnya. Selain duplikat jembatan merah, Pemkab Banyumas tahun ini juga akan membangun sembilan jembatan lainnya. Salah satunya, Jembatan Gilijati yang menghubungkan Desa kebocoran dan Desa Kedungbanteng. “Jembatan ini membuka akses dan menghubungkan Kedungbanteng dengan Beji, karena selama ini belum ada akses langsung. Kalau itu jadi, orang tidak perlu lewat underpas yang di Kebocoran, tapi langsung lewat jembatan itu,” jelasnya.
Adapun total anggaran untuk jembatan tersebut, sebesar Rp 1,5 miliar. Sedangkan anggaran untuk sembilan jembatan, kata dia, sebesar Rp 10 miliar. JAdi total untuk pembangunan jembatan tahun 2017 ini, sebesar Rp 22 miliar untuk pembangunan 10 jembatan.
Sumber: http://radarbanyumas.co.id

Purwokerto Diterjang Banjir



Hujan deras mengguyur Purwokerto, Minggu (29/1) sore. Meski tak berlangsung terlalu lama, itu mmembuat sejumlah wilayah di Purwokerto Banjir. Di Kelurahan Arcawinangun Kecamatan Purwokerto Timur luapan Sungai Bakal merendam belasan rumah setinggi pinggang orang dewasa.
Derasnya arus sungai juga membuat perabotan rumah dan peralatan elektronik milik warga hanyut. Selain di Kelurahan Arcawinangun banjir juga menggenangi jalan Raya Ringintirto Bancarkembar, Purwokerto Utara. 
Genangan air akibat meluapnya drainase juga terjadi di Dukuh Waluh dan Kelurahan Sokanegara. Warga RT 4 RW 9 Kelurahan Arcawinangun, Sahabat Eko Nugroho mengatakan ada 4 RT di Arcawinangun yang terendam banjir akibat meluapnya Sungai Bakal. Antara lain RT 4, RT 2 dan RT 3 RW 9 serta RT 1 RW 8. “Semua rumah yang terendam banjir berada di tepi Kali Bakal. Ada belasan rumah yang tergenang,” kata dia, Minggu (29/1) kepada Banyumas Ekspres (Radar Banyumas Grup). Dia mengatakan banjir tersebut terjadi sekitar pukul 14.30. Saat itu hujan deras. Tiba-tiba Sungai Bakal meluap. Tidak sampai 20 menit air sudah masuk ke dalam rumah semakin tinggi hingga setinggi pinggang. Warga yang berada di tepi sungai memilih menyelamatkan diri. “Mereka tidak sempat menyelamatkan perabotan rumah dan peralatan elektronik. Banyak perabotan yang terseret banjir. Namun kita bersyukur tidak ada korban jiwa. Di RT 4 ini ada 3 rumah yang rusak, pagarnya jebol dan dinding dapurnya terseret air,” kata dia.
Sekitar pukul 17.00 air mulai surut dan selepas maghrib genangan air sudah hilang. Namun warga yang tinggal di tepi Sungai bakal masih memilih mengungsi, tinggal di tempat tetangga maupun kerabatnya yang aman dari banjir. “Sementara masih mengungsi,” kata dia Salah satu warga yang rumahnya terendam Sito mengatakan meluapnya Sungai Bakal, jarang terjadi. Dalam kondisi normal aliran sungainya kecil. Namun dua tahun terakhir terjadi banjir. Dan banjir yang terjadi kemarin terbilang tinggi. “Tahun lalu juga meluap. Namun hanya setinggi lutut,” kata dia Persoalan banjir ini sebenarnya sudah pernah disampaikan ke pihak kelurahan. Harapannya supaya ada normalisasi sungai maupun pembuatan talud. “Pernah warga usulkan, harapannya ada realisasi,” kata Eko Nugroho.
  Banjir juga menggenangi Kelurahan Bancarkembar Kecamatan Purwokerto Utara. Puluhan rumah di RW 7 tergenang air hingga masuk ke dalam rumah. Bahkan jalan raya Ringin Tirto terendam air setinggi betis. Banjir di Kelurahan Bancarkembar ini imbas meluapnya Kali Gombong. “Jangan Ringin Tirto terendam air. Saya melintas menggunakan sepeda motor harus hati-hati,” kata Wahyu warga Pekaja, Sokaraja. Di Kelurahan Sokanegara aliran irigasi Banjaran juga meluap, Minggu (29/1). Akibatnya belasan rumah tergenang air. “Tergenang sekitar satu jam akibat irigasi Banjaran meluap,” kata Aji warga gang A Yani, Sokanegara.
Sumber: http://radarbanyumas.co.id